Khakot Carnival Sebagai Upaya Melestarikan Budaya Daerah

pendekar-khakot

Pencak Khakot

The Heritage of Tanggamus and Khakot Carnival, adalah tema yang diusung Pemda Tanggamus dalam rangkaian puncak acara Festival Teluk Semaka ke-7 yang digelar pada tanggal 1 November 2014 yang lalu.

Siang hari itu di bawah terik matahari yang menyengat kulit tak membuat wisatawan, serta warga Tanggamus dan sekitarnya menyurut, justru semakin ramai bak semut yang mengerubungi gula manis yang tumpah dijalanan utama Kota Agung, untuk melihat festival yang digelar oleh dinas pariwisata pemkab Tanggamus setiap satu tahun sekali, sebagai bentuk upaya melestarikan budaya dan potensi pariwisata daerah yang ada di Tanggamus.

Yang menarik tentunya adanya pertunjukan budaya pencak khakot yang dilakukan oleh lebih dari 1000 (seribu) orang pesilat/pendekar yang sudah dilatih selama kurang lebih 3 bulan untuk persiapan Festival Teluk Semaka tahun ini.

 

pencak-khakot-festival

Ada yang pernah mendengarnya, apa itu pencak Khakot? Jujur, saya sendiri baru kali ini tau dan melihat apa itu Pencak Khakot.
Jika dibeberapa daerah ada yang namanya pencak silat, di Lampung ada pencak khakot. Sejatinya hampir sama, Khakot adalah gerakan tari atau seni bela diri menggunakan pedang/parang khas Lampung. Dari sumber video yang menampilkan gerakan khakot yang diposting Pak Elzhivago, pencak khakot yang dibawakan itu adalah Pincak Khakot – Langkah Sekhatongan (langkah saling mendatangi) adalah gerakan pelaku pencak yang ditarikan sebagai pembuka jalan bagi iring-iringan pengantin atau petinggi adat dan tamu yang dihormati sebagai tanda kesiapan ‘prajurit’ dalam menjaga serta mengamankan sebuah acara/upacara.

Pencak Khakot yang saya lihat di Festival Teluk Semaka kemarin adalah bukti dari masyarakat Lampung yang terus ingin menjaga dan melestarikan budaya daerah. Setelah lama tidak dibawakan/tampilkan, menurut Pak Elzhivago Tabagjaya-pegawai Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (disbudparpora), salah satu pejuang yang mencetuskan agar pencak khakot ditampilkan di acara festival teluk semaka tahun ini, pertunjukan Pencak khakot tahun ini adalah yang pertama di dunia yang dilakukan secara kolosal.

hikayat-pendekar-khakot

Masih menurut Pak Elzhivago, Pencak Khakot – Langkah Sekhatongan yang ditampilan di Festival Teluk Semaka kemarin itu, di modif menjadi langkah keluar-masuk menuju arena panggung kehormatan tempat berlangsungnya acara. Selanjutnya perwilayah (yang ada di Tanggamus) memperagakan khas masing-masing. Yakni:
Empat Sekhurung dan Benang Kusu’ dari Talang Padang dan Gunung Alip
, Tari Pedang dari Kagungan, Tari Khakot dari Teratas dan Kota Agung dan terakhir Berandai dari Wonosobo – Semaka – Way Nipah serta Bandar Negeri Semuong. Konon menurut sumber yang terpercaya, Gerak dan langkah Pincak / pencak Khakot berakar dari Pagaruyung dan Melayu. Khakot sendiri mempunyai makna mempererat ikatan, “khadu ti ikok ti khakot moneh(Sudah diikat dipererat lagi).

Dengan gerakan yang dinamis pencak khakot yang dibawakan seribu orang lebih itu menjadi daya tarik tersendiri, kostum yang seragam dengan ikat kepala berwarna merah membuat atmosfir siang itu begitu bergelora. Saya sampai merinding dibuatnya menyaksikan para penari khakot yang menutupi sepanjang jalan utama Ir. Juanda, Kota Agung.
Karena langsung membayangkan, bagaimana jika para pemuda Indonesia saat ini, seperti itu bergerak bersama, bersatu ikut membantu melestarikan budaya daerah dengan ikut aktif dan bangga menyebarkan informasi budayanya masing-masing melalui media sosial, memperkenalkannya kepada orang-orang diluaran sana yang belum mengetahuinya. Bukan bangga dan mengelu-elukan budaya dari bangsa lain seperti yang kita tahu belakangan ini, ada banyak orang lebih senang mencari tahu kebudayaan dari negara lain dari pada mengexplore budaya dari negeri sendiri.

Harusnya kita mampu ya bersaing dengan orang-orang dari luaran sana, tapi nyatanya saya sendiri mengakui bahwa tidak banyak seni budaya Indonesia yang saya ketahui, termasuk Khakot dari Tanggamus ini.

Saya jadi ingat quote menarik dari walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil, disebuah acara talkshow:

Ciri-ciri orang keren itu ada dua, mampu berkompetisi secara global namun tetap berakar pada budaya lokal.

Semoga kita semua tidak melupakan budaya negeri kita sendiri, tentunya budaya yang baik, yang mampu mengangkat harkat dan martabat negara.

Tidak hanya pencak khakot, di festival teluk semaka ini juga menampilkan beberapa budaya dari beberapa etnis warga yang bermukim lama di Tanggamus. Salah satunya yang terbanyak tentunya etnis dari pulau Jawa, di ikuti Palembang, Padang, Tionghoa, Bali, Sulawesi dan sebagainya. Mereka masing-masing menampilkan budaya khas dari daerahnya masing-masing.

Ada juga penampilan drumband dan pemusik yang membawakan lagu-lagu yang lagi hits, seperti Sakitnya Tuh Disini. Juga penampilan kesenian dari siswa-siswi di sekolah-sekolah yang ada di Tanggamus.

Foto:
@eviindrawanto
@kelilinglampung
Ade Prima

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s