Prosesi Pemberian Gelar Adat Lampung

pengetahan-adok1
Khua Mekhajong. Foto :@donnaimelda

Prosesi pemberian gelar adat Lampung atau yang disebut dengan Pengetahan Adokh, adokh sendiri bisa diartikan sebagai gelar adat, gelar dalam bahasa Lampung artinya nama. Dalam adat Lampung, upacara pengetahan adok ini diberikan sebagai tanda dari masyarakat Lampung untuk melestarikan tradisi-budaya dan memberikan kehormatan kepada seseorang yang dianggap pantas atau sudah berjasa kepada masyarakat, khususnya di tanah sang bumi ruwai jurai dimana dia tinggal.

Biasanya selain dari suku Lampung itu sendiri, Pengetahan Adok ini bisa diberikan kepada orang dari luar suku Lampung, sesuai dengan makna tulisan yang terdapat di lambang Lampung “Sang Bumi Ruwai Jurai” yang secara sederhana bisa diartikan sebagai, didalam satu rumah (sang bumi-tanah lampung) terdapat dua suku (ruwa jurai) suku asli Lampung dan suku pendatang (dari berbagai suku), yang hidup berdampingan dengan damai di Propinsi Lampung.

Hampir sama mungkin seperti adat Jawa serta budaya lainnya, yang memberikan gelar kehormatan pada seseorang. Dalam adat Lampung-pun juga demikian. Namun disetiap pemberian gelar adat haruslah dilakukan melalui proses dan persetujuan dari semua pihak atau petinggi marga adat, khususnya yang ada di Lampung, melalui MPAL (Majelis Penyimbang Adat Lampung).

Di Festival Teluk Semaka ke-7 (1/11/14) yang saya ikuti kemarin, saya beruntung dapat menyaksikan langsung rangkaian upacara pengetahan adok (adat saibatin) dari Tanggamus. Prosesi adat seperti ini jadi pelajaran dan pengalaman baru buat saya, selama tinggal di Lampung (lahir dan besar disana) dan tinggal di tengah-tengah keluarga angkat yang asli Lampung (Pepadun), saya belum pernah melihat secara langsung upacara besar seperti ini. Biasanya saya hanya mengikuti prosesi adat Lampung (pepadun) dalam upacara perkawinan atau khitanan saja yang digelar besar-besaran juga, dan itupun sudah lama sekali sekitar 10 tahun yang lalu, sehingga saya hampir lupa bagaimana prosesnya.
Adapun dalam pemberian gelar yang saya lihat dikeluarga tidak besar seperti di FTS kemarin, biasanya prosesinya dilakukan sederhana dalam keluarga menjelang pernikahan. Seperti contoh, ketika uncu (tante) saya menikah dengan suaminya yang bersuku Jawa, sebelum menikah calon suaminya akan diberikan gelar dan diangkat anak dulu oleh kerabat terdekat (suku Lampung), diberikan gelar adat sesuai silsilah keluarga angkatnya agar bisa mengikuti prosesi adat yang lainnya.

pengetahan-adok3

Salah satu ritual pengetahan adok.
Foto:@donnaimelda

Menarik, itu kata pertama ketika saya menyaksikan semua rangkaian tradisi upacara Pengetahan Adok dihari kedua Tour Semaka. Sebagai puncak dan acara ini gelaran Festival Teluk Semaka ke-7 dari pagi dan dilanjutkan siang harinya dengan tema The Heritage of Tanggamus cultural and Khakot Carnival, dan malamnya akan ditutup dengan hiburan “Semaka Sparkling Night” yang mendatangkan bintang tamu artis ibu kota Trio Macan.

Mengikuti dari awal persiapan sampai akhir acara memang nggak mudah, kita musti bersabar oleh jam karet Indonesia, juga cuaca panas yang membuat kulit terasa meleleh tertimpa matahari dari keringat yang mengalir.

Namun yang membuat saya kagum dari awal sampai akhir puncak acara festival ini adalah, semua orang yang terlibat dalam upacara ini begitu ramah dan terbuka dan penuh semangat, mereka itu seakan tidak terganggu dengan rusuhnya para media sosial yang meliput (yang sok-sokan seperti wartawan :D). Ini yang membuat asik karena kita jadi enjoy sekali mengikutinya, merekapun tidak pelit untuk memberikan jawaban dari setiap pertanyaan yang kami ajukan. Seru!

Pukul 08.30 pagi (01/11/2014) kami sudah diminta oleh mas Hanung untuk berkumpul didepan rumah Dinas Bupati yang berhadapan langsung dengan Taman Kota. Harusnya jam 8 arak-arakan sudah berjalan, tapi seperti yang saya bilang, jadwalnya molor, dan baru berjalan sekitar pukul sembilan.

Kedua pengantin yang akan diberikan gelar adat dari masyarakat Tanggamus di arak menggunakan tandu menuju Lapangan Merdeka, tempat berlangsung Festival Teluk Semaka, diiringi dengan tarian pencak khakot dan juga para pengiring pengantin, pemangku adat dan lain-lain. Ada juga iringan dua Sekura – Topeng Lampung yang merupakan seni budaya Lampung yang berasal dari daerah Pesisir Barat.

iringan pengantin

arak-arakan pengiring pengantin

pengetahan-adok2
Pencak khakot mengiringi arak-arakan pengantin.
Foto :@donnaimelda

Sesampainya di Lap. Merdeka, dipintu gerbang FTS, iring-iringan ini disambut oleh MPAL (Majelis Penyimbang Adat Lampung) lalu dilanjutkan dengan tradisi salam-salaman serta ngemumun, berbalas pantun. Setelah itu kedua pengantin (khua mekhajong) dibawa dan naik menuju panggung utama dan duduk di puade/pelaminan, didampingi oleh panitia MPAL dan pangeran.

Para media sosial dan peliput lainnya diberikan waktu untuk sesi foto dokumentasi. (uhuk..di sesi foto ini saya nyari kesempatan ikut naik kepanggung untuk lomba foto selfie) 😀

Acara selanjutnya penampilan salah satu jenis sastra lisan Lampung yang dibawakan oleh 3 orang, yang disebut dengan ngedalung. Sedikit yang saya pahami, isi dari pembacaan ngedalung di Festival Teluk Semaka kali ini mempunyai arti yang sangat mendalam. Berisi doa, harapan, cerita dan ucapan syukur atas rezeki yang sudah diberikan Tuhan.

Setelah sastra lisan Lampung (ngedalung) dibacakan. Bupati Tanggamus, Bpk. H. Bambang Kurniawan ST, yang bergelar adat Lampung ‘Suthan Pangekhan Mangkunegara Pemangku Tanggamus 1‘, memberikan kata sambutan sebagai tanda resmi dibukanya Festival Teluk Semaka ke-7. Festival Teluk Semaka adalah kegiatan rutin dari pemerintah Tanggamus yang bertujuan mengekpose pelestarian budaya dan pariwisata yang ada di Tanggamus. Pengetahan Adok adalah gelaran budaya yang dipersembahkan pemkab Tanggamus melalui FTS, agar masyarakat tahu tata cara adat Lampung dalam memberi gelar adat kepada seseorang.

pengetahan-adok5

tandu pengantin. Foto :@donnaimelda

pengetahan-adok4

Penyambutan pengantin di Lap. Merdeka. Foto :@eviindrawanto

ritual-pemberian-gelar-adat

Ritual penyambutan pengantin. Foto :@eviindrawanto

ritual-pemberian-gelar-adat

Ritual pemberian gelar adat.

Setelah itu acara inti dilaksanakan, yaitu prosesi pengukuhan pemberian gelar (butatah/butahta). Dan yang mendapatkan gelar kehormatan dari masyarakat Tanggamus di Festival Teluk Semaka tahun ini adalah Bpk. Idham Kholid, SH, MM, ketua Pengadilan Negeri Tanggamus, beliau mendapatkan gelar adat Lampung sebagai ‘Pengikhan Ya Sangun Ratu II‘. Lalu yang kedua adalah Bpk. Raffiudin, SH, ketua Kejaksaan Negeri Tanggamus yang mendapat gelar ‘Pangikhan Ratu Marga‘. Dari informasi yang saya dapat mereka berdua ini masih keturunan asli dari Bandar Negeri, salah satu kecamatan yang ada di Tanggamus. Pengukuhan ini dilakukan ketua MPAL Tanggamus dan MPAL Lampung tentunya. Untuk mengakhiri rangkaian acara pengetahan adok, kemenag Tanggamus menutupnya dengan doa.

foto-pengantin-lampung

Pengiring pengantin

foto-selfie-dengan-pengantin

Foto selfie itu wajib

teammedsos

sebagian team medsos setelah upacara pengetahan adok
Foto :@pangestuhariyadi

Selesai acara, panitia mempersiapkan acara karnival budaya yang akan dilanjutkan lagi nanti setelah ishoma, sekitar pukul 2 siang sampai selesai (sebelum magrib). Dan kami team medsos kembali ke homestay untuk istirahat dan menikmati bakso ikan dan juga memesan otak-otak ikan yang terkenal enak di warung sebelah rumah Pak Samba ^^

Curhat:
Cuma ada satu kekurangan yang membuat saya seperti orang ‘buta’ mengikuti acara puncak Festival Teluk Semaka, kecuali aktif bertanya. Yaitu, sebelumnya kita tidak diberikan semacam briefing apa itu Pengetahan Adok, oleh dan siapa saja yang akan mendapatkan gelar adat. Atau setidaknya kita diberikan buku kecil (panduan) untuk pegangan sebagai bahan informasi untuk mengetahui sedikit banyak tentang upacara tradisi pengetahan adok ini. Tapi, it’s okay, kita maklum karena ini pertama kalinya Festival Teluk Semaka mengundang media sosial yang tidak semua tau apa itu pengetahan adok.

Harapannya, ketika tahun depan diadakan kembali Festival Teluk Semaka dan mengundang kembali para awak media sosial dan lainnya, kita berharap ada informasi yang cukup untuk kita gali sebagai bahan referensi untuk menuliskan tentang pengetahan adok dan sebagainya. Seperti contoh; sejarah mengapa di setiap festival teluk semaka selalu diadakan upacara seperti ini (selain untuk menarik wisatawan, mengenalkan dan melestarikan budaya Lampung), alasan mengapa orang-orang tersebut dianggap pantas mendapatkan gelar dari adat Lampung (selain telah berjasa memajukan daerah karena jabatannya), apa arti dari gelar-gelar yang mereka dapatkan. Lalu yang terpenting adalah, bagaimana prosesi pemberian gelar adat yang sakral itu dilaksanakan, tata cara-runutannya dari awal sampai akhir, disebut apa saja ritual-ritual tersebut, apa makna yang terkandung didalamnya dan semacamnya.
Jikapun tidak dibuatkan dalam buku kecil yang berisikan informasi singkat tentang acara ini, mungkin pemkab Tanggamus bisa memasukkan semua informasi tersebut dalam sebuah web atau halaman khusus Festival Teluk Semaka, informasi-informasi penting tentunya yang berkaitan dengan acara itu. Bukankah Festival ini sudah berjalan selama 7 kali? Atau informasi-informasi tersebut bisa disimpan dalam sebuah file yang bisa di download oleh siapa saja yang membutuhkan.

Satu hal lagi, acara ini harusnya lebih bergaung lagi andai saja admin akun official Festival Teluk Semaka aktif memberikan banyak informasi serta menjawab setiap pertanyaan dari orang-orang yang ingin mengikuti, menonton atau mengetahui tentang festival ini sebelumnya. Kalaupun tidak sempat menjawab pertanyaan, admin bisa membuat noted khusus (di facebook misalnya) tentang acara ini, jadi setiap pertanyaan yang diajukan bisa diarahkan ke noted tersebut, apa saja biasanya yang sering ditanyakan oleh followers yang pengen tau tentang festival teluk semaka, khususnya dari luar kota.

Pada saat acara berlangsungpun harusnya demikian, meretweet setiap livetweet yang dilakukan peserta tour maupun penonton/warga yang ada dilokasi, dengan cara memantaunya via hashtag atau ikutan livetweet juga. Kenapa harus begitu? Yaaa.. karena memang begitulah seharusnya tugas admin media sosial, memberikan informasi untuk followernya.
(Piss ya Mas admin)

Note: Mohon maaf jika ada informasi yang salah, silahkan dikoreksi bagi siapapun yang membacanya.

-Terima kasih untuk kenangan yang indah ini ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s