Human, Kamar Mandi dan Bulu Ketek

love is blind

I’m only human and i bleed when i fall down, cause i’m only human…

Seharian ini saya lagi suka banget sama lagu itu, Human-nya Christina Perri, sampai-sampai kebawa emosi dan saya nangis.

Mungkin karena terbawa suasana, hujan dan lagunya emang rada-rada menyayat hati, jadinya saya nangis..hehe. Bukan karena itu aja sih, kebetulan pas denger lagu itu saya tiba-tiba inget seseorang 😀 (plaaakkk!! udah move on, kan, Mell??)
Yaa…seperti lagu Christina Perri, lah..saya ini cuma manusia biasa, wajar dong kalau tiba-tiba mellow, nangis nggak jelas pas lagi inget sesuatu. Hihihi.

Jadi, gini..karena seharian dikantor dengerin lagu itu ngga berenti-berenti, diulang-ulang terus tapi nggak hapal-hapal juga liriknya. Sesampainya dirumah saya masih aja menggumamkan lagunya, karena saya juga kehujanan dijalanan, saya istirahat bentar dan langsung masuk kamar mandi.

Dikamar mandi saya malah berimajinasi bikin fiksi dengan backsound lagunya Christina Perri, sedih..sedih banget imajinasi saya itu (buat saya doank sih kayaknya).

Ceritanya, ada seorang gadis datang kesebuah acara, semacam undangan blogger buat acara liputan gitu, namanya Cinta, dia punya mantan kekasih bernama Ben. Mereka berdua lima tahun lalu itu saling mencintai, saling mengerti, memahami, dan udah berasa dunia ini cuma milik mereka berdua dan seakan tak terpisahkan lagi. Tapi, siapa yang tau kalau akhirnya mereka tidak bisa menentang takdir dan terpaksa berpisah, perpisahan itu tidak mereka duga, seperti sebuah kematian yang nggak bisa ditebak kapan datangnya. Singkat cerita, Cinta merasakan firasat saat bahwa hari itu adalah terakhir kalinya mereka bertemu, setelah semalaman mereka menghabiskan waktu bersama (maybe mereka melakukan hal yang nggak seharusnya mereka lakukan)

“Sayang.. aku nggak bisa ikut kamu, ya..ngantuk banget nih. Besok kita kita ketemu lagi, ntar aku jemput kamu deh.” Itu kata-kata terakhir Ben kepada Cinta, sewaktu Ben mengantar Cinta kerumah sahabatnya dipagi hari, cuaca saat itu hujan, mereka berpelukan sebentar, berjabat tangan, tapi tangan itu seakan tak ingin melepas satu sama lain, layaknya adegan sinetron dengan slowmotion, perlahan jari-jari mereka terlepas dengan saling bertatap mata lama lalu tersenyum dengan penuh cinta.

Entah bagaimana ceritanya, Cinta tak bisa melanjutkan lagi hubungannya dengan Ben. Ben..tiba-tiba hilang. Setiap malam Cinta bermimpi buruk tentang Ben, setiap malam Cinta gelisah, berharap Ben tiba-tiba datang, Cinta mengharap sebuah penjelasan, kenapa Ben meninggalkannya?

Lima tahun berlalu, Cinta sudah bisa menata lagi hidupnya, walau Ben masih belum hilang dari lubuk hatinya, harapan itu ada, harapan untuk bertemu dan meminta penjelasan, alasan, kepastian..apa yang terjadi.

Disebuah acara undangan peliputan acara tersebut, Cinta duduk bersama teman-temannya, menunggu acara dimulai dan tamu yang lain berdatangan, Cinta tau acara itu adalah launching sebuah restoran baru, dan Cinta penggemar makanan gratisan, apalagi ini restoran khas Jepang yang menjadi favoritnya. Disaat acara sudah dimulai, Cinta tidak terlalu menyimak siapa-siapa saja yang sudah memberi sambutan, dia hanya memandang sekilas, lalu sibuk melakukan live twit, hingga tak sadar namanya dipanggil.

“Saya mau mbak yang berbaju biru disebelah sana, maju kedepan, saya pengen tau pendapatnya tentang makanannya direstoran saya ini.”
Cinta..cinta..Cinta… Cinta menengok saat teman disebelahnya memanggil, memberitahu bahwa dia diminta untuk maju kedepan. Mbak-mbak berbaju biru yang dimaksud adalah Cinta

Cinta mendongak, melihat orang yang mengaku sebagai pemilik restoran itu. Saat hendak berdiri dari kursinya menuju kedepan, Cinta tiba-tiba terdiam…hatinya tiba-tiba berdesir melihat siapa yang ada didepannya. Pria dengan badan atletis yang ada dihadapannya itu adalah Ben, Ben yang selama ini dia harapkan untuk hadir.

“Nggak!!”

“Cinta…”

“Nggak!”

“Cinta…”

“Nggak, Ben..ini nggak mungkin! Kamu jahat!”

Cinta yang tidak siap dengan kejadian itu berlari keluar, dengan perasaan dan emosi yang meluap, Cinta ingin sekali mengeluarkan semua apa yang dia rasakan selama ini.

“Sebentar, Cinta..tunggu, maaf semuanya…saya harus mengejar gadis itu” Sekilas Cinta mendengar Ben mengucapkan beberapa kalimat lagi kepara tamu undangan, entah apa.. Cinta tak perduli.

Cinta menunduk lesu dan terisak-terisak mengingat hatinya yang terluka dan perih menahan rindu untuk melihat Ben, hingga tak sadar Ben sudah ada disampingnya sekarang.

“Cinta, maaf..aku tidak tahu itu kamu”
“Ben…hiks, Ben..andai aku tahu ini restoranmu, aku tidak akan datang mempermalukan diriku sendiri”

“Cinta..kamu apa kabar?”

“Cinta, kamu apa kabar??? kamu nggak punya perasaan Ben! kamu pergi nggak ada kabar, sekarang kamu nanyain kabar aku?”

Cinta mengutuk dan memaki dirinya sendiri dalam hati, pria macam apa yang ada dihatinya selama ini? Cinta tak sempat untuk menilai, cinta tak sempat untuk marah. Dia terlalu bodoh memandang dan mempercayai Ben, selama ini dia pikir Ben sudah mati terkubur bersama hatinya. Tapi, tiba-tiba, Ben muncul tanpa merasa bersalah sama sekali.

“Cinta, aku minta maaf..aku tau aku salah, aku pergi meninggalkan kamu. Aku mengaku salah, Cinta..”

“…aku sudah memaafkanmu, Ben. Tapi aku masih sulit untuk memaafkan diriku sendiri, kenapa aku begitu bodohnya bisa mencintai orang sepertimu yang tidak bertanggung jawab sama sekali!”

“Apa aku perlu bertanya, Ben? kemana kamu selama ini? apakah kamu tau perasaanku, apa kamu tau keadaanku setelah kamu tinggalkan? apa aku perlu bertanya seperti itu.”

“Cinta…aku nggak bisa bersama kamu lagi”

“Aku tau..harusnya kata-kata itu kamu ucapkan lima tahun lalu, bukan sekarang! Sudah, ya..aku nggak mau bertemu kamu lagi, permisi!”

Cinta pergi meninggalkan Ben yang masih terpaku tidak percaya dengan pertemuan tak terduga mereka. Tak lama Cinta kembali lagi membawa tas yang tertinggal di restoran dan menghampiri Ben yang masih berdiri diam.

“Ben…sebulan setelah tak ada kabar lagi darimu hingga sekarang, aku harus membesarkan anakku sendiri!!”

Setelah mengucapkan kalimat itu Cinta benar-benar pergi dari hadapan Ben dengan perasaan yang kacau. Sedangkan Ben??

Entahlah…

Waktu mengarang bebas bikin fiksi dikamar mandi sambil mendengarkan lagu Human Christina Perri ini, saya nggak tau sama sekali, apa alasan Ben pergi meninggalkan Cinta.. hingga sekarang masih misteri..haha. (Namanya juga fiksi)

Sedih nggak ceritanya? Nggak ya? 😀

Tapi, nggak tau kenapa saya justru menangis.. sambil membuka tutup botol shampo untuk keramas mandi wajib setelah haid, tapi saya nggak sadar kalau shampo itu saya usap-usapkan dibadan, bukannya dirambut.

Terus saya mikir, kenapa sabunnya begini banget ya, agak lebih licin dan nggak banyak busa, saat mengusapkannya keseluruh badan termasuk ketek juga pastinya 😀

Sedetik dua detik saya sadar…Oh My God..helooowww.. ini kan shampo penyubur rambut *rambut saya rontoknya banyak euyyy :((

Terus udah saya usapkan berkali-kali pula diketek..terus gimana ini kalau bulu ketek saya jadi tumbuh subur dan gondrong?? wkwkwkwkwkw

Sumpah yaa..yang tadinya saya masih terisak-isak nangis karena fiksi dan lagu Human, tiba-tiba saya ketawa ngakak dengan sambil panik, gimana kalau bulu ketek ini beneran gondrong. Astaga..nggak lagi-lagi deh berimajinasi dikamar mandi. 😀

Foto dari sini :coretanpena-ku.blogspot.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s