Membekas Seperti Handphone Bekas

azof-rangga

Delapan tahun yang lalu.

Disamping mushola sekolah ada kolam ikan yang menyerupai danau dan pepohonan yang sangat rindang untuk sekedar duduk-duduk santai saat jam istirahat atau saat harus belajar kelompok setelah pelajaran usai, atau hanya sekedar untuk cari perhatian para siswa terhadap siswa lain yang berlawanan jenis. Yak, kalau sejenis kan, nggak bagus, ya? Saya biasanya menghabiskan waktu jam istirahat disitu bersama sahabat saya. Ariana namanya, siswa baru pindahan dari SMA lain, menjadi sahabat baru saya dikelas karena kami duduk sebangku. Agak tomboy dan ceplas ceplos tapi juga baik hati.

Well, saat itu menjadi remaja tanggung yang belum dewasa membuat kami menjadi agak sulit, untuk memahami perasaan dan mengerti sesuatu karena terlalu mementingkan emosional dan merasa benar sendiri, orang-orang menyebutnya masa-masa itu kami sedang mencari jati diri. Sebagai contoh, saat dilarang pacaran, kami lebih memilih mengatakan, orang tua kami tak mengerti dan peduli perasaan kami, padahal mereka melarang itu justru karena mereka sangat peduli, kan? Coba bayangkan, kalau kita patah hati, hati orang tua mana yang nggak ikut terluka melihat anaknya menangis-nangis karena cinta yang tak berwujud itu. Jelas, orang tua melarang karena belum saatnya kita terluka dan tersakiti oleh cinta yang begitu perih menusuk hati. Ouhh.

Sebagai sahabat, Ariana menjadi orang pertama yang menjadi tempat saya untuk mencurahkan isi hati saat itu. Waktu saya naksir seorang cowok kakak kelas dari saya kelas satu, dia mendengarkan dan memberikan saran, bagaimana saya harus bersikap didepan cowok, Ariana yang polos namun cerdas dan pemikir selalu memberikan solusi terbaik buat saya.

“Intan, sebaiknya kamu beli handphone, deh” Saya kaget, Ariana menawarkan pilihan itu.

“Buat apa Ri aku beli handphone? kamu kira aku mampu beli? idiiih, cuma karena cowok aku musti beli hape gitu? Nggak deh” Saya protes, bagaimana tidak, selain harga handphone yang mahal buat saya, saya juga nggak ngerti cara menggunakannya. Nanti juga bisa, jawab Ariana.

“Serius, deh, Tan..nanti aku pinjemin duit, buat beli hapenya, nggak usah yang baru, yang bekas aja biar murah, ok?.” Saya mikir dan tergoda, apalagi Ariana mengatakan, saya boleh membayar cicilan handphone bekas itu kapan saja, maklum orang tua Ariana ternyata juragan angkot yang baik hati.

Akhirnya setelah meminta ijin orang tua, saya membeli handphone merek Nokia 2600 di counter hape dekat rumah Ariana beserta pulsa untuk nomor barunya.
Punya handphone bekas yang baru dibeli ternyata banyak keuntungannya, selain harganya murah, tentunya keuntungan yang satu itu, yang nggak bisa saya lupakan sampai sekarang.

nokia-2600

Handphone bekas yang baru saya beli ternyata nggak benar-benar bekas. Karena handphone yang ditawarkan Ariana untuk saya beli itu bekas punya-nya cowok kakak kelas yang saya taksir. Waktu saya nyalakan didalamnya ada sebuah note cantik, layaknya sayembara.
“Siapapun yang beli hape bekas gue ini, kalau cowok, gue jadiin temen, dan kalau cewek gue jadiin pacar dong pastinya..hehe. Call gue ya, 08178764xxx.” Azof.

Saya terbelalak membaca pesan itu, bagaimana bisa saya naksir cowok iseng begini? pikirku. Tapi, seketika saya melirik Ariana yang dari tadi senyum-senyum cekikikan. Saya curiga dengan kebaikan hatinya.

“Ok..ok, aku ngaku, Tan.. Azof yang kamu taksir dari kelas satu itu sepupu aku.”

handphone pertama

Sumber Photo: dari google

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s