Jika Rumah Dijual

rumah sederhana
Ilustrasi Rumah

Liburan akhir minggu kemarin saya pulang ke Lampung nggak ada agenda khusus, sih, selain melepas rindu sama ibu dirumah. Sebisa mungkin saya dan kakak-kakak saya akan pulang nengokin ibu sesering mungkin, karena kita nggak pernah tau kapan waktu kita semua akan berakhir.

Selain melepas rindu pada ibu kebetulan saya masih ingin meninjau rumah (rumah ibu saya) karena masih belum beres pengerjaannya dari tahun lalu, walaupun sudah bisa ditinggalin, tapi dindingnya belum di plester, ubin-nya belum dikeramik, terasnya belum ada, jadi masih banyak banget kebutuhan yang perlu ditambahi untuk menjadi rumah yang layak dan kelihatan rapi. Masih perlu banyak uang supaya rumahnya benar-benar jadi rumah.

Tapi sebenarnya ada yang mengganjal pikiran saya ketika mulai membangun rumah ibu saya ini. Tahun lalu beredar kabar bahwa tanah dan rumah yang kami tempati itu, juga beberapa rumah lainnya masuk hitungan dalam proyek pemerintah untuk pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Lampung dan propinsi-propinsi lain di Sumatera yang dikerjakan mulai tahun 2015 nanti, saya nggak tahu ini jalur kereta untuk Batubara atau jalur kereta api penumpang, karena untuk jalur kereta penumpang yang menghubungkan Lampung-Palembang sudah ada, yang berangkat dari stasiun Tanjung Karang.

Walau nantinya pasti akan diganti oleh pemerintah, dan katanya kalau rumah sudah permanen ganti ruginya juga akan lumayan besar, tetap saja saya merasa agak nggak rela karena tanah dan rumah sebelumnya itu peninggalan almarhum ayah akan digusur. Tadinya saya juga berpikir dan bilang ke ibu jual rumah aja dari sekarang, lalu ibu ikut kami dan membeli rumah disini (Bogor), kalau dua lahan kebun Karet yang baru mulai digarap dan tumbuh itu biarin aja di Lampung untuk invest jangka panjang.

Tapi ibu menolak kalaupun rumah dijual atau rumah sudah digusur sama pemerintah, ibu ingin tetap cari rumah baru yang tidak jauh dari tempat tinggal sekarang, alasannya biar lebih dekat sama makam alm ayah dan beli rumah barunya nggak terlalu mahal jika di bandingkan kalau beli di Bogor, yang paling penting sih ibu mencari kenyamanan dan ketentraman, juga interaksi dengan para tetangga.

Kalau dipikir-pikir betul juga sih, biaya membuat rumah di kampung masih murah, kalau misal punya uang Rp.50juta sudah bisa punya rumah lumayan mewah, diluar harga tanah. Selain itu jika dikampung masih bisa menghirup udara yang bersih dan nggak terlalu panas, dengan tetangga juga bisa saling tahu dan menjalin komunikasi. Kan, nggak lucu kalau rumah berdampingan tapi ternyata nggak kenal sama orangnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s