Filosofi Tanah Liat

cara mendidik anak

Saat yang paling tepat bagi kita untuk membuat tanah liat adalah ketika masih basah, pada saat itulah kita dapat dengan mudah untuk membuat bentuk yang diinginkan, apakah itu vas, teko, cangkir, bunga, etc. Ketika tanah liatnya sudah mulai mengering akan sangat sulit bagi kita untuk mengubah bentuk awalnya, akan ada yang terkikis tentunya.

Di tulis oleh mantan pacarnya Hyun Bin*

Kalimat di atas saya kutip dari postingan Bi Erry tertanggal 19 Mei 2011 yang berjudul sama, Filosofi Tanah Liat.

Sejujurnya saya sempat iri sama Bi Erry, bukan sempat sih tapi hampir tiap hari selama dia berhasil pergi ke Korea beberapa bulan yang lalu, di tambah akhirnya tim mereka berhasil memenangkan kembali voting untuk menghadiri buzz Korean award dan bertemu secara langsung dengan artis Korea yang baru saja mengadakan konsernya di Indonesia, 2PM.

Dan secara pribadi saya bangga sekali karena bisa kenal dengan seorang Bibi Titi Teliti dari ngeblog, yang menurut saya Bi Erry itu seorang yang humoris (terbaca dari postingannya) tegas, punya prinsip dan cerdas. Ada banyak pelajaran penting yang saya dapat dari tulisan yang di posting Bi Erry, yang diceritakannya dengan ringan tapi berisi, tulisannya yang santai tapi tegas, tulisannya yang humoris tapi bermakna, kadang saya berpikir, apa benar Bi Erry itu kalau lagi ngeblog itu beneran sambil nendang kulkas (tagline ini sudah ngalahin lagunya Syahrinihihihi).

Semua tulisan Bi Erry di blog yang dia posting itu menggoda untuk saya dibaca dengan gaya khasnya yang ringan dan lucu, apalagi kalau sudah menyangkut di category my sweet baby boy, siapa lagi kalau bukan si manusia planet dedek Fathir yang unyu-unyu itu.

Okeh, kembali ke filosofi tanah liat.

Saya suka dengan yang di analogikan Bi Erry di postingannya tersebut tentang cara mengajar/mendidik seorang anak yang mengibaratkannya seperti tanah liat. Kita dapat membentuk apapun yang kita mau selagi tanah liat itu masih basah.

Karena yang kita tahu peran orang tua dalam mendidik anak itu sangat penting, anak-anak itu dapat menjadi pribadi yang baik, bagaimana ketika cara orang tua mendidik mereka sedari kecil, walaupun saya sendiri belum menikah dan punya anak, tapi pelajaran seperti ini dapat membantu saya berpikir ataupun mencoba menerapkannya ke ponakan atau kesiapapun anak kecil yang ada disekitar saya. Setidaknya itupun membuat saya berpikir bagaimana orang tua saya (ibu) dulu mengajarkan/mendidik saya seperti apa, manfaat apa yang saya rasakan sekarang dengan didikan ibu saya itu. Satu yang saya ingat tentang nasihat ibu saya, bahwa saya harus hormat pada orang tua, siapapun itu. Nasihat ini penting karena membantu saya untuk tidak kurang ajar kepada siapapun.

Walaupun setiap orang tua punya cara yang berbeda mendidik masing-masing anaknya, tapi kita yakin apapun itu pasti yang terbaik yang ingin mereka berikan.

Karena apa yang didapat dari orang tua, itulah yang selalu diingat oleh anak-anaknya ketika beranjak dewasa kelak dan menjalani hidupnya sendiri. Jadi pengajaran sejak dini memang harus diberikan sebaik mungkin, sebijaksana mungkin, dan jangan sampai karena didikan orang tua yang terlalu sayang pada anak malah membebani ruang gerak si anak.

Karena ada banyak contoh yang saya lihat dari perkembangan seorang anak atas didikan dari orang tuanya, karena terlalu di sayang tanpa memberikan arahan-arahan yang baik apa yang dilakukan si anak, anak tersebut justru tidak paham dengan keadaan sekitarnya, yang dia tahu hanya orang tuanya dapat memenuhi semua yang dia inginkan, dia tidak perduli pada orang lain. Menurut saya hal itu tidak baik. Seperti yang diutarakan Bi Erry dalam mendidik Kayla dan Fathir, semua itu harus imbang,walaupun tidak gampang memang.

Dari membaca postingan Bi Erry tentang filosofi tanah liat ini juga saya tahu betapa sulitnya jadi orang tua yang menginginkan terbaik untuk anak-anaknya. Yang membuat saya suka dari postingan ini adalah gimana bijaksana-nya Bi Erry mengutarakan maksudnya cara mendidik anak yang baik tanpa bermaksud menggurui, terbukti dari respon teman-teman blogger di kolom komentar yang menyatakan persetujuannya dengan apa yang dibahas Bi Erry tentang filosofi tanah liat. Saya juga belajar dari komentar-komentar itu.

*Postingan ini khusus buat giveaway dari Bi Erry.

Photo scr google.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s