Oh Orang Gila

orang gila dari google

Seperti biasa setiap pagi aku berangakat kerja menggunakan jasa angkot (angkutan kota/umum).

Selama 20 menit perjalanan dari rumah ke tempat kerja ada banyak orang-orang dan cerita yang aku dapatkan di dalam angkutan tersebut. Dan bermacam-macam.

Hari Selama kemarin 15 Maret 2011 ketika aku naik angkot kedua dari Jalan Baru ( Jln. Sholeh Iskandar, Bogor. Rumahku sendiri dikawasan Pemda, Cibinong ) ke Kebon Pedes tempat kerjaku berbarengan juga dengan ibu-ibu yang ingin pergi ke Pasar, setiap hari biasanya seperti itu.

Di persimpangan ke arah Kebon Pedes yang berlawanan arah dengan jalan ke Bojong Gede, disitu ada ibu-ibu naik di depan toko kue dan kebetulan didalam angkot Cuma ada aku, ibu-ibu lain, supir dan penumpang disamping supir, berlima dengan ibu-ibu yang baru naik tadi.

Ibu 1 (yang baru naik) : itu kasian sekali yah perempuan tadi, keadaannya jadi begitu padahal dulunya dia orang kaya sekarang hidupnya terlunta-lunta nggak ada rumah, keluarganya nggak ada yang mau menolong tiba-tiba saja ibu ini nyerocos pakai bahasa Sunda ketika naik angkot dan memulai obrolan lainnya yang sedikit aku nggak ngerti, aku dan ibu yang sudah ada didalam cuma menampakan muka bingung. Selanjutnya aku Cuma jadi pendengar ibu-ibu ini ngobrol, sama-sama nggak kenal.

Ibu 2 Saha Bu? ( Siapa Bu? )

Ibu 1 : Itu yang tadi, perempuan yang deket saya berdiri nunggu angkot tadi bu. Dia kan dulunya orang kaya, rumahnya deket Indomaret Kebon Pedes. Tapi sekarang udah dijual dan sekarang dia nggak punya apa-apa lagi, ditinggalin keluarganya juga, kasian sekarang jadi kurang waras begitu?!

Ibu 2 : Oh perempuan tadi? Iya Saya sering lihat di dekat komplek rumah saya loh, dia sudah nggak waras yah bu? Adiknya juga setahu saya juga begitu, malah sekarang hamil mungkin di pakai sama preman-preman dijalan? Yah siapa yang nggak tertarik mereka itu masih cantik dan segar, Cuma pikiran dan jiwa mereka saja yang terganggu, yah kasian sekali bu keadaannya.

Ibu 1 : Iya adiknya badannya kecil, seperti mba ini (menunjuk ke arahku ).

Heh, aku terhenyak lalu membatin tapi bukan aku kan bu? 😀 aku tersenyum ke arah ibu-ibu itu dan melanjutkan mendengarkan obrolan mereka.

Ibu 1 : Sekarang Bogor juga jadi tempat pembuangan orang-orang gila bu, kemarin anakku yang rumahnya di pinggir kali Ciliwung di Jalan Baru itu melihat satu muatan mobil berhenti pagi-pagi dan menurunkan lebih dari 20 orang yang isinya orang-orang yang kurang waras / gila bu!

Aku dan Ibu 2 : hahh..masa sih bu?

Ibu 1 : Iya, anakku lihat langsung loh, orang-orang gila itu berlarian berhamburan keluar dari mobil, ada yang bilang mobil itu dari dinas sosial Jakarta

Aku : Yakin itu bu? Masa sih mereka tega membuang orang-orang yang kurang beruntung itu di Bogor?, lagian bukannya kalau dinas social itu melindungi?

Ibu 1 : Iya dik, anak ibu lihat langsung, mungkin di Jakarta sudah kebanyakan orang gila dan nggak muat lagi kali yah?

Aku : Tapi kenapa orang-orang itu nggak dimasukkan ke rumah sakit jiwa atau tempat penampungan mereka ya bu?

Ibu 2 : pemerintah mana mau mengurus hal yang begitu, bisa ikutan gila mungkin hehe.

Setelah itu aku nggak mendengar lagi obrolan mereka, karena sudah sampai di tempat kerjaku.

Aku : Mari bu, saya duluan..

Sampai kantor aku kepikiran dengan obrolan tadi, masa sih keadaannya seperti itu?. Apa iya dinas social yang mengangkut orang-orang gila itu lalu membuangnya dan menyebarkannya di Bogor?.

Tapi entah karena memang berita yang kudengar dari obrolan pagi itu benar atau hoax aku tidak tau. Sewaktu pulang kerja sore harinya, aku biasanya jarang sekali menemukan orang gila di pinggir jalan, baik yang compang camping/dekil maupun yang bener-bener terlihat terganggu jiwanya atau yang biasa saja, aku biasanya hanya melihat orang gila yang sama yang hampir tiap hari kutemui dimana mereka sering berteduh, dan itu nggak banyak seperti yang kulihat sore hari itu.

Aku nggak tau, karena beberapa hari ini aku sering sekali melihat orang-orang itu dengan penampilan mereka yang mencerminkan mereka terganggu jiwanya, sore hari kemarinpun aku memperhatikan jalan dan kutemukan 6 orang gila dari sepanjang jalan dari jalan Dadali, Jambu 2, pertigaan Tol Jorr, dan jalan under pass.

Subhanallah.. bahkan seminggu yang lalu saat aku sedang menunggu angkot pulang kerja aku hampir dipukul oleh ibu-ibu yang dari sikapnya jelas dia kurang waras.

Kalau ternyata apa yang kudengar dari obrolan pagi itu faktanya adalah benar??

Tapi aku juga nggak mau ikutan gila memikirkan nasib mereka, sebagai manusia aku prihatin kenapa dinas social yang ibu ceritakan padaku itu tidak punya rasa kemanusian sama sekali. Mereka itu jelas digaji oleh pemerintah kan? Untuk mengurus hal-hal seperti itu, bukannya membuang seperti menyebar virus ke daerah lain. Huh.

Kenapa nggak ditampung? Atau masuk rehabilitasi bukannya dibiarkan berkeliaran di luar. Karena selain berbahaya buat yang lain yang kadang orang gila itu menakutkan (kadang emang menakutkan sih) juga merusak pemandangan kota, tidur sembarangan, kadang ada yang tidak berpakaian, berpakaian tapi cuma pakai baju saja sehinggga alat vital mereka terlihat dimana-dimana. Kita kadang nggak sempat menghindar dari pandangan seperti itu.

Apakah Rumah Sakit Jiwa hanya diperuntukan untuk orang-orang yang kaya juga? Yang gila harta?

NB : Maaf, kalau kalimat ‘orang gila’-nya terlalu kasar 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s